Dunia Silat | JAKARTA - Matras pertandingan terakhir kali diinjak H. Ridhan Nandari pada Kejurnas IPSI 2010. Setelah itu, hidupnya bergerak ke arena yang berbeda.
Bukan lagi mengejar kemenangan dalam hitungan ronde, Ridhan memilih menekuni dunia usaha. Dari bisnis Dancell Handphone dan aksesori, ia membangun usaha yang terus berkembang hingga kini mempekerjakan kurang lebih 1.500 karyawan.
Enam belas tahun setelah pertandingan terakhirnya, nama Ridhan kembali berada di lingkungan organisasi pencak silat nasional. Kali ini bukan sebagai atlet yang mengejar medali, melainkan sebagai pengusaha muda yang dipercaya menjadi Anggota Bidang Perencanaan Usaha PB IPSI.
Ia juga mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PB Persinas ASAD.Perjalanan dari pesilat menjadi pengusaha tersebut menyimpan satu pertanyaan menarik,apa bedanya bertarung di atas matras dengan bertarung di dunia bisnis?
Pertandingan Berakhir, Mental Bertanding Tetap Hidup
Kejurnas IPSI 2010 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan Ridhan sebagai pesilat.
Sejak saat itu, arena pertandingan bukan lagi menjadi ruang utamanya. Namun, nilai yang diperoleh dari pencak silat tidak ikut ditinggalkan.
Disiplin latihan, keberanian menghadapi lawan, kemampuan membaca situasi, pengendalian diri, serta kemauan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan menjadi bekal yang tetap relevan ketika memasuki dunia usaha.
Jika di atas matras seorang pesilat berhadapan dengan lawan secara langsung, di dunia bisnis tantangannya datang dalam bentuk yang jauh lebih beragam.
Perubahan pasar, perkembangan teknologi, kebutuhan konsumen, persaingan, hingga pengelolaan sumber daya manusia menuntut keputusan yang cepat sekaligus terukur.Di sinilah mental seorang pesilat menemukan arena baru.
Dari Mengejar Medali hingga Membuka Lapangan Kerja
Ada perubahan besar dalam arti kemenangan ketika Ridhan memasuki dunia bisnis.sebagai atlet, kemenangan diukur melalui hasil pertandingan.sebagai pengusaha, keberhasilan tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi.
Kini, kurang lebih 1.500 orang menjadi bagian dari perjalanan bisnis yang dibangunnya.jumlah tersebut membuat tanggung jawabnya semakin besar. Setiap keputusan bisnis memiliki konsekuensi terhadap perusahaan dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Dari sinilah pengalaman di gelanggang menemukan makna yang berbeda.Ketekunan yang dulu diperlukan untuk menjalani latihan diterapkan dalam membangun usaha. Strategi yang dulu digunakan untuk membaca gerakan lawan berubah menjadi kemampuan membaca peluang. Sementara keberanian bertanding berkembang menjadi keberanian mengambil keputusan.pertarungan tidak lagi dilakukan seorang diri,kini kemenangan harus diraih bersama tim.
Ketika Pesilat Kembali ke Rumah Besarnya
Kepercayaan masuk jajaran PB IPSI menjadi babak baru dalam perjalanan Ridhan.setelah bertahun-tahun berada di dunia usaha, ia kembali ke lingkungan pencak silat dengan membawa pengalaman yang diperolehnya selama membangun bisnis.
Sebagai Anggota Bidang Perencanaan Usaha PB IPSI, ia mendapat ruang untuk ikut memikirkan aspek pengembangan usaha dan keberlanjutan ekosistem organisasi.
Pencak silat membutuhkan lebih dari sekadar atlet berprestasi. Di belakang seorang juara terdapat sistem pembinaan, pelatih, kompetisi, organisasi, pembiayaan, kemitraan, dan berbagai kebutuhan lain yang harus berjalan secara berkelanjutan.
Pengalaman mengembangkan usaha menjadi bekal tersendiri bagi Ridhan untuk melihat pencak silat dari perspektif yang lebih luas.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan tersebut.tahun 2010, Ridhan berada di Kejurnas IPSI sebagai pesilat.tahun 2026, ia kembali ke lingkungan IPSI dengan peran yang berbeda.
Enam belas tahun bukan waktu yang singkat. Selama masa itu, arena hidupnya berubah. Dari pertandingan menuju dunia bisnis. Dari mengejar prestasi pribadi menuju membangun usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan orang.
Namun, ada satu hal yang tetap dibawa: mental seorang pesilat.bagi Ridhan, pencak silat tidak berhenti ketika seorang atlet meninggalkan arena pertandingan.nilai-nilainya justru dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan.
Matras mengajarkan bagaimana menghadapi lawan. Dunia bisnis mengajarkan bagaimana menghadapi tantangan. Sementara organisasi memberi kesempatan untuk mengubah pengalaman menjadi pengabdian.
Kini, setelah 16 tahun berlalu sejak pertandingan terakhirnya di Kejurnas IPSI 2010, Ridhan kembali berada di rumah besar pencak silat Indonesia.
Bukan untuk mengejar medali.melainkan untuk ikut memikirkan bagaimana olahraga yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya itu dapat tumbuh lebih kuat.
Dan mungkin, itulah bentuk kemenangan yang berbeda bagi seorang pesilat bukan lagi berdiri di podium, tetapi mampu berdiri bersama banyak orang dan memberi manfaat bagi perjalanan mereka.(wed/hry)

0 komentar