-->
    BLANTERORBITv102

    PERSILAT Siapkan Standar Global, Video Regulasi 2026 Jadi Langkah Nyata Road to Olympic

    Selasa, 12 Mei 2026

     

    Dunia Silat | JAKARTA - PERSILAT mulai mematangkan salah satu fondasi utama menuju pengakuan olahraga dunia,standardisasi aturan pertandingan. Federasi pencak silat internasional itu menggelar produksi video Peraturan Pertandingan Pencak Silat 2026,yang berlangsung selama dua hari, 11–12 Mei 2026 di Padepokan Pencak Silat Indonesia TMII. Langkah ini disebut sebagai bagian konkret dari agenda besar road to Olympic.

    PERSILAT turut melibatkan PB Persinas ASAD untuk mendukung kebutuhan personel dalam kegiatan tersebut. Sejumlah nama diminta untuk terlibat, mulai dari perangkat wasit juri, tim dokumentasi, hingga pesilat peraga.

    Sekretaris Jenderal PERSILAT, Tedy suradmaji mengatakan standardisasi menjadi pekerjaan mendasar jika pencak silat ingin mendapat tempat dalam sistem olahraga internasional. Menurut dia, pengakuan global tidak cukup dibangun melalui popularitas atau jumlah negara anggota, melainkan harus ditopang oleh sistem pertandingan yang terukur dan konsisten.

    “Kalau kita bicara Olimpiade, yang pertama dilihat adalah sistem. Bagaimana aturan diterapkan, bagaimana penilaian dilakukan, dan bagaimana seluruh negara anggota memahami regulasi dengan parameter yang sama,” kata Tedy. 

    Ia menyebut video regulasi 2026 disiapkan sebagai acuan resmi bagi wasit, pelatih, atlet, serta federasi anggota di berbagai negara. Tujuannya, menghilangkan ruang tafsir yang berbeda dalam penerapan aturan pertandingan.

    “Pencak silat harus memiliki satu bahasa yang sama di arena pertandingan internasional. Tidak boleh ada standar ganda. Video ini menjadi instrumen pembelajaran sekaligus standardisasi global,” ujarnya.

    Executive Chairman PERSILAT, Benny Sumarsono, menilai pencak silat saat ini telah memasuki fase pembuktian. Setelah diakui sebagai warisan budaya, menurut dia, tantangan berikutnya adalah membangun kredibilitas sebagai cabang olahraga modern yang mampu memenuhi standar kompetisi internasional.

    “Warisan budaya memberi identitas, tetapi sistem yang kuat memberi legitimasi di dunia olahraga. Karena itu, kami membangun dari hal paling mendasar, yakni regulasi, tata kelola, dan kualitas pertandingan,” kata Benny.

    Menurut Benny, keterlibatan berbagai elemen, termasuk Persinas ASAD, menunjukkan bahwa upaya membawa pencak silat ke Olimpiade tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja.

    “Road to Olympic adalah kerja kolektif. Federasi, perguruan, atlet, perangkat pertandingan, hingga media harus bergerak dalam visi yang sama. Kalau fondasinya kuat, peluang pencak silat tampil di panggung Olimpiade akan semakin terbuka,” ujarnya.

    Melalui produksi video regulasi 2026, PERSILAT tidak hanya menyiapkan materi pembelajaran teknis, tetapi juga sedang membangun satu pesan kepada dunia,pencak silat bersiap naik kelas, dari warisan budaya menjadi olahraga global yang siap bersaing di panggung tertinggi.(wed/hry).