Dunia Silat | Jakarta - Ribuan pesilat bergerak serentak di tengah kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Di antara hiruk-pikuk warga yang menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor, sekitar 7.000 pesilat dari berbagai perguruan anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia memperagakan jurus tunggal tangan kosong secara massal.
Sekitar 700 pesilat PERSINAS ASAD turut berada dalam barisan tersebut. Mereka datang dari sejumlah wilayah di DKI Jakarta, bergabung dengan ribuan pesilat lainnya dalam sebuah atraksi yang bukan sekadar pertunjukan bela diri.
Gerakan yang dilakukan serempak menjadi gambaran tentang kekuatan komunitas pencak silat Indonesia. Beragam perguruan, latar belakang, dan kelompok usia bertemu dalam satu irama.
Sekretaris Umum PB PERSINAS ASAD, Weda Hendragiri,yang hadir langsung di lokasi mengatakan keterlibatan ratusan pesilat PERSINAS ASAD merupakan bentuk dukungan terhadap program IPSI sekaligus upaya memperkuat persaudaraan antarperguruan.
"Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk menunjukkan kebersamaan, persatuan, dan kekuatan komunitas pencak silat di Indonesia," ujar Weda seusai kegiatan di Jakarta, Minggu.
Kehadiran PERSINAS ASAD dalam kegiatan tersebut sebenarnya tidak diawali dengan target yang besar. Dalam perencanaan awal, sedikitnya 500 pesilat ditargetkan ikut ambil bagian.
Mobilisasi dilakukan melalui jajaran pengurus PERSINAS ASAD di DKI Jakarta. Namun, antusiasme anggota membuat jumlah peserta berkembang hingga lebih dari 700 pesilat.
"Berdasarkan pendataan kami sebelum acara, ternyata jumlah warga PERSINAS ASAD yang hadir mencapai lebih dari tujuh ratus," kata Weda.
Peserta tidak hanya berasal dari kalangan atlet atau pesilat muda. Berbagai kelompok usia ikut berada dalam barisan dari semua kalangan usia," ujar Weda.
Bagi PERSINAS ASAD, keberagaman itu penting. Pencak silat tidak hanya dipandang sebagai olahraga untuk mengejar prestasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter, menjaga kebugaran, melestarikan seni dan budaya, serta memperkuat persaudaraan.
Dalam kegiatan itu, PERSINAS ASAD antara lain menyiapkan pesilat dari Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin dan Pengkot IPSI Jakarta Utara.
Mereka tidak hanya memperagakan teknik pencak silat, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat yang menikmati suasana Car Free Day di kawasan Bundaran HI.
Atraksi jurus tunggal tangan kosong IPSI menjadi salah satu bagian utama kegiatan. Ribuan pesilat memperagakan rangkaian gerakan secara bersamaan.
Tidak mudah membuat ribuan orang bergerak dalam satu irama. Dibutuhkan disiplin, konsentrasi, dan kekompakan.
Perbedaan perguruan tidak lagi terlihat sebagai sekat. Semua pesilat berdiri dalam satu barisan dan mengikuti gerakan yang sama.
Bagi PERSINAS ASAD, momentum tersebut menjadi cermin bahwa keberagaman pencak silat dapat bertemu dalam semangat persatuan.
Terlebih, kegiatan tersebut berlangsung menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sekretaris Jenderal PB IPSI Abdul Karim Al-Jufri melihat besarnya partisipasi pesilat sebagai sesuatu yang di luar perkiraan.menurut dia, pada awalnya kegiatan hanya menargetkan sekitar 2.000 hingga 3.000 peserta.
"Awalnya kami hanya menargetkan sekitar 2.000 sampai 3.000 orang. Tiba-tiba di rapat pertama langsung menjadi 5.500. Setelah saya laporkan kepada Ketum, naik lagi menjadi 6.500," ujar Abdul Karim.
Jumlah tersebut, menurut dia, menunjukkan besarnya gairah perguruan-perguruan pencak silat di Jabodetabek untuk berkumpul dan terlibat dalam kegiatan bersama.
"Ini menunjukkan bahwa perguruan-perguruan yang ada di Jabodetabek sangat bergairah dan mereka ingin berkumpul seperti ini," katanya.
Abdul Karim berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan. Jika memungkinkan, kegiatan serupa dapat menjadi agenda tahunan.
"Kita berharap bisa tahunan. Tapi ini tergantung nanti ke depan mau kita bikin tahunan atau seperti apa," ujarnya.
Namun, bagi Abdul Karim, tujuan kegiatan bukan semata-mata memperkenalkan pencak silat kepada dunia.
Yang lebih penting adalah membuat masyarakat Indonesia kembali melihat pencak silat sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa.
"Kita berharap pengaruh yang kuat itu di sana bisa lebih menular di Indonesia. Karena, jujur saja, kita masih dianggap sebagai olahraga yang kampungan. Itu yang ingin kita ubah image-nya," kata Abdul Karim.
Ia mengingatkan bahwa pencak silat memang tumbuh dari akar masyarakat.Pencak silat memang dari kampung, tapi bukan olahraga kampungan," ujarnnya
Besarnya antusiasme masyarakat menjadi modal sosial bagi pencak silat untuk mengejar target yang lebih tinggi.
Dalam jangka pendek, PB IPSI menargetkan Indonesia mempertahankan gelar juara umum Kejuaraan Dunia.target jangka pendek tetap mempertahankan gelar juara bertahan, juara umum di Kejuaraan Dunia," ujar Abdul Karim.
Adapun target jangka panjangnya adalah membawa pencak silat ke Olimpiade.Target jangka panjangnya tentu kita bisa lolos Olimpiade," katanya.
Target itu tentu tidak ringan. Perlu pembinaan atlet yang berkelanjutan, kompetisi yang kuat, tata kelola organisasi yang baik, serta dukungan dari seluruh perguruan pencak silat.
Abdul Karim pun berpesan agar perguruan mempertahankan capaian positif yang telah dibangun.Kalau diminta pesan, pertahankan yang sudah bagus ini," katanya.
Weda Hendragiri menegaskan PERSINAS ASAD siap mengambil bagian dalam perjalanan panjang tersebut.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada prestasi olahraga, tetapi juga seni, budaya, dan tradisi.
"Kami dari PERSINAS ASAD terus akan men-support kader-kader kami, para pesilat kami, baik dari sisi seni budaya tradisi dan juga dari sisi prestasi," ujar Weda.
Ia juga menyebut kemungkinan adanya seleksi nasional dalam waktu dekat sebagai salah satu agenda yang perlu dipersiapkan.
"Insya Allah nantinya mungkin di bulan-bulan ini akan ada seleknas. Kami juga akan berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk Indonesia," katanya.
Bagi PERSINAS ASAD, perjuangan tersebut bukan sekadar tentang memenangkan pertandingan. Ada warisan budaya yang harus tetap dijaga di tengah upaya meningkatkan prestasi.
Minggu pagi itu, Bundaran HI menjadi saksi bagaimana pencak silat memperlihatkan wajahnya kepada masyarakat.Ribuan pesilat datang bukan untuk saling berhadapan. Mereka justru bergerak bersama.
Sekitar 700 pesilat PERSINAS ASAD menjadi bagian dari barisan besar yang mempertemukan berbagai perguruan dalam satu gerakan.
Dari jurus yang dilakukan serempak, terlihat satu pesan: pencak silat memiliki banyak perguruan, tetapi memiliki satu akar kebudayaan.
Dari kampung tempat pencak silat tumbuh, dari perguruan tempat pesilat ditempa, menuju arena dunia tempat prestasi dipertaruhkan.
Dan di balik ribuan gerakan yang serentak di Bundaran HI itu, tersimpan satu cita-cita yang lebih besar agar pencak silat bukan hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi suatu hari berdiri di panggung Olimpiade.(wed/hry)




0 komentar