-->
    BLANTERORBITv102

    Seleknas Pencak Silat 2026, Jalan Para Pesilat Menuju Panggung Dunia

    Senin, 31 Agustus 2026


    Dunia Silat | JAKARTA - Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menjadi tempat bertemunya para pesilat terbaik dari berbagai daerah dalam Seleksi Nasional (Seleknas) Tim Pencak Silat Indonesia, 29–30 Agustus 2026.

    Seleknas tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam proses penjaringan atlet yang dipersiapkan menghadapi Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2026 di Uzbekistan.

    Di antara para pesilat yang mendapat panggilan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), terdapat lima atlet dari Persinas ASAD yang turut bersaing memperebutkan posisi dalam skuad nasional.

    Kelima pesilat tersebut yakni Yasir Nur Ikhwanudin dari Sulawesi Tenggara dan Ibrohim Putra Sultan dari Sulawesi Utara yang turun di kelas Under A. Selanjutnya Ibnu Abdillah dari Sulawesi Utara dan Khoirudin Mustakim dari Jawa Tengah di kelas A Putra, serta M. Syafril Asad Habibulloh dari Jawa Barat di kelas I Putra.

    Kehadiran mereka menjadi bagian dari dinamika pembinaan pencak silat nasional yang mempertemukan atlet dari berbagai perguruan dan daerah dalam satu arena kompetisi.

    Seleknas bukan sekadar pertandingan untuk menentukan pemenang. Gelanggang tersebut menjadi ruang evaluasi untuk melihat kesiapan atlet menghadapi persaingan pada level yang lebih tinggi.

    Setiap pesilat dituntut menunjukkan kemampuan teknik, ketahanan fisik, strategi, kedisiplinan, hingga mental bertanding. Sebab, persaingan menuju tim nasional mempertemukan atlet-atlet yang telah melalui proses pembinaan dan kompetisi di daerah masing-masing.

    Dalam persaingan tersebut, dua pesilat Persinas ASAD berhasil mencatatkan hasil menonjol.M. Syafril Asad Habibulloh menempati peringkat pertama kelas I Putra. Sementara Khoirudin Mustakim berada di posisi kedua kelas A Putra.

    Hasil tersebut menunjukkan ketatnya persaingan antarpesilat sekaligus menggambarkan pentingnya kesinambungan pembinaan atlet dari tingkat daerah hingga nasional.

    Namun, capaian di Seleknas belum serta merta menjadi tiket untuk memperkuat Indonesia pada Kejuaraan Dunia 2026. Proses selanjutnya tetap mengikuti mekanisme, evaluasi, dan keputusan PB IPSI dalam menentukan komposisi tim nasional.

    Lima pesilat tersebut datang dari latar daerah yang berbeda. Yasir dari Sulawesi Tenggara, Ibrohim dan Ibnu dari Sulawesi Utara, Khoirudin dari Jawa Tengah, serta Syafril dari Jawa Barat.

    Perbedaan daerah tersebut memperlihatkan bagaimana pencak silat berkembang melalui ekosistem pembinaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

    Di balik setiap atlet terdapat proses panjang latihan rutin, pembinaan teknik, pertandingan, evaluasi, hingga pembentukan mental untuk menghadapi tekanan di gelanggang.

    Pencak silat sebagai olahraga prestasi membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan. Prestasi nasional tidak lahir secara instan, melainkan melalui jenjang kompetisi yang mempertemukan atlet dengan tingkat kemampuan yang semakin tinggi.

    Seleknas menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut.Pencak silat tidak hanya berbicara mengenai kemenangan dan peringkat. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, sportivitas, serta tanggung jawab.

    Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk atlet yang mampu menghadapi pertandingan sekaligus menjaga karakter di luar gelanggang.

    Karena itu, keberhasilan seorang pesilat tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak medali yang diraih. Proses panjang menuju prestasi juga menjadi ukuran penting dalam membangun generasi atlet yang tangguh.

    Dari arena TMII, perjalanan para pesilat menuju level internasional pun terus berlanjut.Syafril dan Khoirudin membawa hasil positif dari Seleknas. Sementara Yasir, Ibrohim, dan Ibnu memperoleh pengalaman berharga dari persaingan di level nasional.

    Bagi kelimanya, Seleknas menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Sebuah proses yang mempertemukan kerja keras, pembinaan, kompetisi, dan kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

    Sebab, sebelum seorang pesilat berdiri di podium kejuaraan dunia dan mengenakan lambang Merah Putih, ada satu tahapan yang harus dilalui terlebih dahulu berani memasuki gelanggang dan memberikan kemampuan terbaik.(wed/hry).