Dunia Silat | JAKARTA - Derap langkah para pesilat seharusnya tidak berhenti pada suara hentakan kaki di atas matras. Di usia ke-81 Republik Indonesia, langkah itu dituntut bergerak lebih jauh: menuju persatuan, prestasi, dan kedewasaan.
Bagi keluarga besar perguruan pencak silat Nusantara, momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi saat untuk bercermin. Pencak silat yang lahir dan tumbuh dari kebudayaan Indonesia bukan sekadar olahraga bela diri. Di dalamnya melekat nilai disiplin, keberanian, persaudaraan, ketahanan mental, serta keluhuran budi.
Karena itu, seorang pendekar semestinya tidak diukur dari seberapa kuat ia menjatuhkan lawan di jalanan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa mampu ia menahan diri ketika menghadapi provokasi.
Di tengah keberagaman perguruan, aliran, tradisi, dan simbol yang menghiasi dunia pencak silat, perbedaan semestinya menjadi kekayaan. Setiap perguruan memiliki sejarah dan karakter masing-masing. Namun, semuanya bertemu pada satu rumah besar Indonesia.
Semangat itulah yang relevan dengan refleksi kemerdekaan tahun ini. Kedaulatan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan pertahanan negara, tetapi juga melalui ketahanan karakter masyarakat.
Perguruan pencak silat memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Para pelatih, pendekar, pengurus, dan orang tua memiliki tanggung jawab bersama memastikan energi generasi muda tidak terseret pada fanatisme sempit. Salah satu persoalan yang harus ditinggalkan adalah tawuran antarperguruan.
Gesekan di jalan, saling ejek, provokasi di media sosial, hingga bentrokan kelompok tidak menghasilkan kemenangan apa pun. Yang tersisa justru luka, keresahan masyarakat, kerusakan fasilitas, bahkan masa depan anak muda yang bisa ikut terdampak.
Itu yang seharusnya menjadi sarana membentuk manusia berkarakter justru dapat dipersepsikan sebagai sumber kekerasan apabila digunakan tanpa kendali.
Karena itu, seruan “tawuran antarperguruan tidak ada gunanya” bukan sekadar slogan. Ia merupakan ajakan untuk mengembalikan pencak silat kepada jati dirinya.
Pendekar sejati adalah mereka yang mampu mengendalikan ego, menghormati perguruan lain, dan memilih jalan damai ketika persoalan muncul.Energi anak muda tidak perlu dimatikan. Energi itu justru harus diarahkan.
Gelanggang pertandingan adalah ruang pembuktian yang jauh lebih terhormat. Di sana kemampuan diuji dengan aturan, wasit, sportivitas, disiplin, dan penghormatan terhadap lawan.
Jika seorang pesilat merasa memiliki kemampuan, matras adalah tempat untuk membuktikannya.Jika seorang pesilat ingin mengangkat nama perguruannya, raihlah medali.
Jika ingin mengharumkan nama Indonesia, berlatihlah lebih keras dan berkompetisilah hingga tingkat nasional dan internasional.
Dengan demikian, keberanian tidak lagi dipertontonkan melalui bentrokan di jalan, tetapi melalui prestasi di gelanggang.
Pendewasaan dunia pencak silat juga membutuhkan peran para pengurus perguruan. Konflik kecil tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi persoalan besar.
Forum silaturahmi antarperguruan dapat menjadi ruang untuk membangun komunikasi, menyelesaikan kesalahpahaman, dan meredam potensi konflik sejak dini.
Pengurus pusat hingga tingkat akar rumput perlu mengambil peran aktif. Begitu pula pelatih, orang tua, dan para senior. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan teknik tendangan, pukulan, atau jurus, tetapi juga mengajarkan kapan kekuatan harus digunakan dan kapan seseorang harus menahan diri.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka semestinya membuat dunia pencak silat semakin dewasa.
Kemerdekaan bukan alasan untuk bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan justru menghadirkan tanggung jawab untuk menjaga ruang hidup bersama.
Perguruan boleh berbeda. Seragam boleh berbeda. Lambang boleh berbeda. Tradisi boleh berbeda.Namun, ketika Merah Putih dikibarkan, semua perbedaan itu bertemu dalam satu identitas sebagai anak bangsa.
Karena itu, keluarga besar pencak silat Nusantara perlu membangun komitmen bersama: zero conflict, menolak provokasi, memperkuat silaturahmi, mengembangkan prestasi atlet, melestarikan seni budaya, serta memperluas pengabdian kepada masyarakat.
Di tengah masyarakat, pesilat semestinya dikenal sebagai pribadi yang santun. Di gelanggang, ia tampil sebagai atlet yang tangguh. Di lingkungan perguruan, ia menjadi saudara. Dan sebagai warga negara, ia menjadi bagian dari kekuatan yang menjaga persatuan Indonesia.
Pada akhirnya, ukuran kejayaan sebuah perguruan bukanlah seberapa banyak kelompok lain yang dapat dikalahkan, melainkan seberapa banyak generasi muda yang berhasil dibentuk menjadi manusia berprestasi, berkarakter, dan bermanfaat.
Mari tinggalkan ego dan gesekan di jalanan. Satukan persaudaraan, kobarkan sportivitas, dan buktikan bahwa pencak silat mampu menjadi kebanggaan Ibu Pertiwi bukan karena kekerasannya, melainkan karena prestasi, budaya, persaudaraan, dan pengabdiannya bagi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.(wed/hry)

0 komentar