Dunia Silat | Semarang - Tepuk tangan mengiringi satu per satu nama yang dipanggil. Di tengah rangkaian Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, Jawa Tengah, sebuah prosesi berlangsung lebih dari sekadar pemberian penghargaan.
Sejumlah tokoh dianugerahi gelar kehormatan. Di antara mereka terdapat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Bagi Tapak Suci, penganugerahan itu merupakan bentuk apresiasi atas dukungan terhadap perkembangan organisasi dan pencak silat. Namun, maknanya tidak berhenti pada sebuah gelar.
Penghargaan tersebut menjadi simbol hubungan yang ingin terus dirawat antara perguruan pencak silat, Muhammadiyah, pemerintah, kepolisian, dan masyarakat.
Penganugerahan anggota kehormatan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti merupakan bentuk apresiasi Tapak Suci atas dukungan dan perhatian terhadap perkembangan pencak silat serta pembinaan generasi muda.
Selain anggota kehormatan, Tapak Suci melantik sejumlah tokoh sebagai Pendekar Kehormatan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan selama ini dinilai memberikan dukungan terhadap perjalanan serta perkembangan Tapak Suci.
Penghargaan ini bukan sekadar pemberian gelar. Di dalamnya ada penghormatan, silaturahmi, dan harapan agar kebersamaan terus terjaga dalam mengembangkan olahraga pencak silat, membina generasi muda, dan merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Muktamar XVI tidak hanya mempertemukan keluarga besar Tapak Suci. Sebanyak 10 perguruan historis dan enam perguruan besar turut hadir.
Kehadiran mereka menunjukkan wajah pencak silat Indonesia yang beragam. Setiap perguruan memiliki sejarah, tradisi, dan karakter pembinaan masing-masing. Namun, perbedaan itu bertemu dalam satu semangat: menjaga pencak silat sebagai warisan budaya sekaligus mengembangkannya sebagai olahraga prestasi.
Gelanggang memang menjadi tempat menguji kemampuan. Tetapi proses menjadi pendekar berlangsung jauh lebih panjang. Ada disiplin yang harus dibiasakan, ada keberanian yang harus ditempa, dan ada karakter yang harus dibangun.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. KH Haedar Nashir, M.Si., menekankan pentingnya iman, takwa, dan akhlak sebagai landasan.Dengan iman, takwa, dan akhlak, kita menjadi kuat. Tanpa iman, takwa, dan akhlak, kita menjadi lemah.
Bagi Haedar, kekuatan raga tidak boleh berdiri sendiri. Latihan bela diri harus berjalan bersama pembentukan jiwa kesatria, yang berdiri di atas kebenaran, kebaikan, dan keluhuran.
Dengan demikian, seorang pendekar tidak hanya dituntut mampu menghadapi lawan di gelanggang. Ia juga harus mampu mengendalikan diri dan menggunakan kekuatannya untuk kebaikan.
Pimpinan Besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah Dr. H. Muhammad Afnan Hadikusumo menyampaikan bahwa Tapak Suci terus mengembangkan pembinaan atlet melalui pendekatan sport science.
Teknik, fisik, mental, nutrisi, dan evaluasi performa menjadi bagian dari pembinaan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mencetak atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Tapak Suci juga telah berkembang di 36 provinsi dan 24 negara.Perjalanan itu membawa konsekuensi semakin luas jangkauan organisasi, semakin besar pula tanggung jawab menjaga kualitas pembinaan dan nilai-nilai yang menjadi dasar perguruan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti keterlibatan kader Tapak Suci dalam kepengurusan Ikatan Pencak Silat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Menurut Sigit, para kader tersebut ikut berkontribusi dalam pembinaan atlet, penguatan organisasi, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman perguruan pencak silat.Ketika berada dalam organisasi IPSI, kita bersatu untuk satu tujuan, yaitu memajukan pencak silat dan mengharumkan nama Indonesia.
Kalimat itu menemukan maknanya di tengah kehadiran berbagai perguruan dalam Muktamar XVI.
Perguruan boleh berbeda. Tradisi boleh beragam. Namun, pencak silat memiliki satu rumah besar ketika berbicara tentang kepentingan bangsa.
Masa depan pembinaan juga disiapkan melalui pembangunan Padepokan Tapak Suci di Umbulharjo, Yogyakarta.
Padepokan tersebut direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 4.000 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.200 meter persegi dan tiga lantai.
Fasilitas itu diproyeksikan menjadi tempat latihan dan pembinaan para atlet serta pendekar Tapak Suci.
Prosesi pembangunan ditandai secara simbolis dengan penancapan paku oleh Haedar Nashir.Bagi sebuah perguruan, padepokan bukan hanya persoalan ruang dan bangunan. Ia adalah tempat bertemunya generasi.
Di sana, pengalaman pendekar senior diwariskan kepada mereka yang baru belajar berdiri di gelanggang.di sana pula disiplin dibentuk sebelum seorang atlet belajar mengejar medali.
Karena itu, penghargaan kepada para tokoh dalam Muktamar XVI dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang.
Ada penghormatan kepada mereka yang selama ini mendukung. Ada silaturahmi yang ingin terus dirawat. Dan ada harapan agar semakin banyak pihak ikut menjaga keberlangsungan pencak silat.
Pencak silat tidak hanya membutuhkan atlet. Ia membutuhkan pembina, organisasi, pemerintah, masyarakat, dan generasi muda yang bersedia meneruskan tradisi.
Pada akhirnya, seorang pendekar tidak hanya diukur dari kemenangan di gelanggang.Ia diukur dari bagaimana kekuatan itu digunakan, bagaimana disiplin dijalankan, bagaimana persaudaraan dijaga, dan bagaimana nilai-nilai yang dipelajari dibawa keluar dari gelanggang.sebab,pencak silat boleh dimulai dari gelanggang, tetapi nilai-nilainya harus hidup di tengah masyarakat.(wed/hry)

0 komentar