Dunia Silat | Semarang -Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, menjadi titik perjumpaan para pendekar. Bukan untuk saling menguji kekuatan, melainkan untuk membicarakan masa depan pencak silat, pembinaan generasi, dan perjalanan sebuah perguruan yang telah melampaui batas daerah dan negara, Sabtu(08/08/2026)
Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah digelar di Semarang dengan mempertemukan keluarga besar Tapak Suci, Muhammadiyah, pemerintah, kepolisian, serta komunitas pencak silat. Sebanyak 10 perguruan historis dan enam perguruan besar turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Kehadiran berbagai perguruan itu menjadi gambaran bahwa pencak silat Indonesia tumbuh dari banyak akar. Masing-masing membawa tradisi, sejarah, dan corak pembinaan yang berbeda. Namun, di tengah perbedaan itu, ada satu ruang yang mempertemukan mereka: kecintaan terhadap pencak silat Indonesia.
Bagi Tapak Suci, pencak silat bukan sekadar perkara gerakan tangan dan kaki. Ia merupakan bagian dari proses panjang membentuk manusia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. KH Haedar Nashir, M.Si., mengingatkan kembali nilai yang menjadi jiwa Tapak Suci.
“Dengan iman, takwa, dan akhlak, kita menjadi kuat. Tanpa iman, takwa, dan akhlak, kita menjadi lemah,” kata Haedar.
Pesan tersebut menempatkan kekuatan fisik pada tempatnya. Tubuh boleh ditempa agar kuat, tetapi kekuatan itu harus diarahkan oleh iman dan akhlak.
Di gelanggang, seorang pendekar belajar mengendalikan gerakan. Di luar gelanggang, ia dituntut mampu mengendalikan diri.
Perjalanan Tapak Suci juga tidak berhenti pada pembentukan karakter. Para atletnya telah tampil dalam berbagai kejuaraan nasional dan internasional serta menyumbangkan medali bagi Indonesia.
Pimpinan Besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah Dr. H. Muhammad Afnan Hadikusumo mengatakan pembinaan atlet terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih ilmiah.
Teknik, fisik, mental, nutrisi, dan evaluasi performa menjadi bagian dari pembinaan berbasis sport science.
Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam membangun prestasi. Latihan tidak hanya mengandalkan kekuatan dan ketekunan, tetapi juga membutuhkan data, evaluasi, serta metode pembinaan yang terukur.
Tapak Suci saat ini disebut telah berkembang di 36 provinsi di Indonesia dan 24 negara.Bagi Afnan, perkembangan itu membawa konsekuensi. Semakin luas organisasi berkembang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kualitas pembinaan dan nilai yang menjadi dasar perguruan.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melihat keberadaan kader Tapak Suci dalam tubuh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai bagian dari kekuatan organisasi pencak silat nasional.
Kader Tapak Suci, kata dia, terlibat dalam kepengurusan IPSI di berbagai tingkatan. Mereka ikut dalam pembinaan atlet, penguatan kelembagaan, hingga menjaga persatuan antarp perguruan.
“Ketika berada dalam organisasi IPSI, kita bersatu untuk satu tujuan, yaitu memajukan pencak silat dan mengharumkan nama Indonesia,” ujar Sigit.
Pernyataan itu menemukan konteksnya dalam kehadiran 10 perguruan historis dan enam perguruan besar dalam Muktamar XVI.
Pencak silat memang lahir dari banyak perguruan. Ada sejarah yang panjang, ada identitas yang kuat, dan ada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, keberagaman tersebut justru menjadi kekayaan.
Di dalam gelanggang, mereka mungkin memiliki teknik dan tradisi yang berbeda. Di bawah Merah Putih, tujuan mereka sama.
Di tengah pembicaraan tentang masa depan, Tapak Suci juga menyiapkan sebuah ruang fisik untuk pembinaan.
Padepokan Tapak Suci di Umbulharjo, Yogyakarta, direncanakan dibangun di atas lahan sekitar 4.000 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.200 meter persegi dan terdiri atas tiga lantai.
Padepokan tersebut akan dilengkapi fasilitas pendukung modern untuk latihan dan pembinaan.Prosesi pembangunan ditandai dengan penancapan paku secara simbolis oleh Haedar Nashir.
Padepokan bukan sekadar bangunan. Di sanalah para calon pendekar diharapkan belajar mengenal disiplin, mengasah kemampuan, sekaligus memahami bahwa kekuatan memiliki tanggung jawab.
Kapolri juga mengingatkan para pendekar agar tidak berhenti berlatih.Prestasi, menurut dia, lahir dari disiplin, kerja keras, dan keuletan. Nilai-nilai tersebut juga dibutuhkan masyarakat untuk menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
“Kalau kita ulet, kalau kita kuat, kalau kita disiplin, dan mampu bertahan dalam setiap tekanan, insya Allah kita akan berhasil,” ujar Sigit.
Pesan itu membuat pencak silat bergerak melampaui batas olahraga.Medali memang menjadi ukuran prestasi di gelanggang. Namun, bagi Tapak Suci, keberhasilan juga diukur dari manusia yang lahir setelah menjalani proses pembinaan.
Seorang pendekar diharapkan bukan hanya kuat menghadapi lawan, tetapi juga kuat menghadapi dirinya sendiri.
Di penghujung rangkaian kegiatan, pesan tentang persatuan kembali mengemuka.Haedar Nashir menegaskan bahwa TNI dan Polri merupakan kekuatan strategis bangsa yang harus dijaga kebersamaan dan persatuannya. Hubungan antara Muhammadiyah, pemerintah, kepolisian, dan berbagai elemen masyarakat juga perlu terus dibangun.
Sepuluh perguruan historis dan enam perguruan besar datang dengan sejarahnya masing-masing. Mereka menunjukkan bahwa pencak silat Indonesia tidak dibangun oleh satu perguruan saja.
Muktamar XVI Tapak Suci akhirnya tidak sekadar menjadi forum organisasi. Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap jurus terdapat nilai, di balik setiap medali ada proses panjang, dan di balik setiap perguruan terdapat sejarah yang layak dirawat.(wed/hry)

0 komentar